Jumat, 28 September 2012

abaikan saja


Could you hear me?
Saya mencintai seseorang dengan penuh ketulusan, saya mencintai dengan sangat besar, hingga saat ini cinta itu masih tersimpan dalam lubuk hati, disini, aku menamakannya pikiran. Dia bukan virus yang menjangkit kesemua alam pikiranku, tapi dia memang sebuah memori yang tidak akan dilepaskan, karena dia begitu banyak menginvestasikan ilmu. Banyak ilmu yang saya dapatkan ketika itu, diluar ilmu akademik yang sering ditularkan, sebuah ilmu yang mahal adalah ilmu ketulusan, memang dia tidak pernah melontarkan hal ini sewaktu itu, tapi banyak perilakunya yang membuatku harus belajar tulus dan akhirnya ilmu itu masih tertanam dan membekas sampai sekarang ini.
Berbicara masalah cinta sekarang, agak sedikit bahkan mungkin banyak memaksakan perasaan ini terhadap yang bersangkutan, aku ingin hal yang sama juga dirasakannya kini bahkan setiap hari, pernah aku merefresh pikiranku terhadap dirinya, bahkan sudah aku restart ulang, tapi apa?,  kata-kata restart hanya ungkapan untuk kembali di awal, ambigu rasanya dengan restart bagiku, artinya benar-benar aku berfikir kembali di awal dulu, yang saat itu aku mulai terjangkit kata falling in love, apa yang bisa aku lakukan ketika itu?, aku rasa sama sepeeti manusia pada umumnya, mereka selalu bilang let it flow, dan itu aku lakukan ketika itu, let it flow dengan apa yang mencintaiku dan apa yang aku cintai, namun kesalahan yang terus aku salahkan berulang-ulang, aku terlalu let it flow dengan perasaan ini, aku terbawa arus yang dahulu terlalu jauh, hingga detik ini aku sulit untuk terlepas dari arus itu.
Aku tidak berharap orang yang bersangkutan membaca tulisan ini, aku juga tidak pernah berharap sabahat-sahabatku mengadu padanya kalau aku masih jatuh cinta. Aku ingin dia hanya tahu bagaimana aku sekarang, tapi aku tidak tahu apa yang seharusnya aku perbuat dengan ini. Sungguh saya aku mencintai dengan besar sekali, usiaku masih cukup mudah, 19 tahun, dan aku rasa ini usia wajar untuk saya mencintai dengan ‘sesungguhnya’. Sewaktu aku duduk di kelas 3 SMA, aku pernah menangis dan jeritan dalam pikiranku yang luar biasa, aku sebut itu hanyalah sebuah ‘ego’, bukan sebuah ‘id’, aku melihat sebuah foto yang itu seperti aku dijatuhkan dari gedung yang sangat tinggi lalu terkapar lemas bahkan berlumuran darah, patah semua tulang-tulangku. Terlalu berlebihan kalau dipikirkan kembali, tapi memang begitu sewaktu itu, biarpun aku pernah mencoba mencintai orang lain, tapi rasanya itu sangat berbeda, ini egois bukan?, orang lain mencintaiku tapi aku memaksa untuk tidak mencintai aku. Aku mencintai seseorang dan sangat berharap orang itu bisa memahaminya.
Sahabat-sahabatku terkadang menganggap aku ceria, seperti tidak ada masalah dalam pikiranku, namun sebenarnya ada ssuatu yang sku pikirkan, memang bukan halyang krusila untuk usiaku sekarang, tapi mungkin menjadi krusial ketika usiaku sudah menginjak 23 atau 24 tahun, itu kira-kira 4 sampai 5 tahun dari usiaku sekarang, ya ini adalah psikologi humanisme diriku. Terkadang aku menganggap perasaanku ini konyol, mungkin hanya sebuah emosi. Tapi aku yakinkan pada diriku lagi, aku sangat tulus, benar-benar tulus, 4 tahun aku sudah menjaga perasaan itu, tertata rapi pada sekat-sekat memoriku. Aku ingin kau mendengar ini dari hatimu, “aku sangat dalam mencintaimu, aku sangat tulus mencintaimu, atas dasar cintaku pada Allah, atas dasar keagungan Allah mengalirkan air di seluruh alam semesta, mengadakan rotasi di alam semesta dan mengalirkan udara di alam semesta hingga masuk ke paru-paruku, aku dalam mencintaimu, sampai aku tidak tahu bagaimana aku harus menyimpan rasa yang terlalu banyak ini, inginku kau segera tahu lalu memahami bagaimana perasaanku kini, aku tidak akan teromabng-ambing seperti kebanyakan orang yang terlalu cinta dengan seseorang, kau telah menancapkan sebuah tiang besar dalam hatiku, hingga aku bisa berpengang disana untuk terus menunggu” namun sayangnya sederat kalimat itu hanya ada dalam pikiran dan hatiku, mulutku tidak pantas tuk mengucapkan. Ketahuilah rasa ini sungguh saat besar dan ketulusan itu bagai sebuah selimut dari cintaku kini. Can you hear me?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar