Could you hear
me?
Saya
mencintai seseorang dengan penuh ketulusan, saya mencintai dengan sangat besar,
hingga saat ini cinta itu masih tersimpan dalam lubuk hati, disini, aku
menamakannya pikiran. Dia bukan virus yang menjangkit kesemua alam pikiranku,
tapi dia memang sebuah memori yang tidak akan dilepaskan, karena dia begitu
banyak menginvestasikan ilmu. Banyak ilmu yang saya dapatkan ketika itu, diluar
ilmu akademik yang sering ditularkan, sebuah ilmu yang mahal adalah ilmu
ketulusan, memang dia tidak pernah melontarkan hal ini sewaktu itu, tapi banyak
perilakunya yang membuatku harus belajar tulus dan akhirnya ilmu itu masih
tertanam dan membekas sampai sekarang ini.
Berbicara
masalah cinta sekarang, agak sedikit bahkan mungkin banyak memaksakan perasaan
ini terhadap yang bersangkutan, aku ingin hal yang sama juga dirasakannya kini
bahkan setiap hari, pernah aku merefresh pikiranku terhadap dirinya, bahkan
sudah aku restart ulang, tapi apa?,
kata-kata restart hanya ungkapan untuk kembali di awal, ambigu rasanya
dengan restart bagiku, artinya benar-benar aku berfikir kembali di awal dulu,
yang saat itu aku mulai terjangkit kata falling in love, apa yang bisa aku
lakukan ketika itu?, aku rasa sama sepeeti manusia pada umumnya, mereka selalu
bilang let it flow, dan itu aku lakukan ketika itu, let it flow dengan apa yang
mencintaiku dan apa yang aku cintai, namun kesalahan yang terus aku salahkan
berulang-ulang, aku terlalu let it flow dengan perasaan ini, aku terbawa arus
yang dahulu terlalu jauh, hingga detik ini aku sulit untuk terlepas dari arus
itu.
Aku tidak
berharap orang yang bersangkutan membaca tulisan ini, aku juga tidak pernah
berharap sabahat-sahabatku mengadu padanya kalau aku masih jatuh cinta. Aku
ingin dia hanya tahu bagaimana aku sekarang, tapi aku tidak tahu apa yang
seharusnya aku perbuat dengan ini. Sungguh saya aku mencintai dengan besar
sekali, usiaku masih cukup mudah, 19 tahun, dan aku rasa ini usia wajar untuk
saya mencintai dengan ‘sesungguhnya’. Sewaktu aku duduk di kelas 3 SMA, aku
pernah menangis dan jeritan dalam pikiranku yang luar biasa, aku sebut itu
hanyalah sebuah ‘ego’, bukan sebuah ‘id’, aku melihat sebuah foto yang itu
seperti aku dijatuhkan dari gedung yang sangat tinggi lalu terkapar lemas
bahkan berlumuran darah, patah semua tulang-tulangku. Terlalu berlebihan kalau
dipikirkan kembali, tapi memang begitu sewaktu itu, biarpun aku pernah mencoba
mencintai orang lain, tapi rasanya itu sangat berbeda, ini egois bukan?, orang
lain mencintaiku tapi aku memaksa untuk tidak mencintai aku. Aku mencintai
seseorang dan sangat berharap orang itu bisa memahaminya.
Sahabat-sahabatku
terkadang menganggap aku ceria, seperti tidak ada masalah dalam pikiranku,
namun sebenarnya ada ssuatu yang sku pikirkan, memang bukan halyang krusila
untuk usiaku sekarang, tapi mungkin menjadi krusial ketika usiaku sudah
menginjak 23 atau 24 tahun, itu kira-kira 4 sampai 5 tahun dari usiaku
sekarang, ya ini adalah psikologi humanisme diriku. Terkadang aku menganggap
perasaanku ini konyol, mungkin hanya sebuah emosi. Tapi aku yakinkan pada
diriku lagi, aku sangat tulus, benar-benar tulus, 4 tahun aku sudah menjaga
perasaan itu, tertata rapi pada sekat-sekat memoriku. Aku ingin kau mendengar
ini dari hatimu, “aku sangat dalam mencintaimu, aku sangat tulus mencintaimu,
atas dasar cintaku pada Allah, atas dasar keagungan Allah mengalirkan air di
seluruh alam semesta, mengadakan rotasi di alam semesta dan mengalirkan udara
di alam semesta hingga masuk ke paru-paruku, aku dalam mencintaimu, sampai aku
tidak tahu bagaimana aku harus menyimpan rasa yang terlalu banyak ini, inginku
kau segera tahu lalu memahami bagaimana perasaanku kini, aku tidak akan
teromabng-ambing seperti kebanyakan orang yang terlalu cinta dengan seseorang,
kau telah menancapkan sebuah tiang besar dalam hatiku, hingga aku bisa
berpengang disana untuk terus menunggu” namun sayangnya sederat kalimat itu
hanya ada dalam pikiran dan hatiku, mulutku tidak pantas tuk mengucapkan.
Ketahuilah rasa ini sungguh saat besar dan ketulusan itu bagai sebuah selimut
dari cintaku kini. Can
you hear me?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar